22 September 2014

IDEOLOGI IMAN DALAM PUASA

Semua orang menginginkan hidup sehat dalam menjalani kehidupannya dan untuk mendapatkan itu berbagai macam cara dilakukan. Apalagi bagi orang-orang yang terlanjur overweigth pasti sangat mendambakan tubuhnya kembali ideal sehingga moment puasa Ramadhan ini dianggap satu dari alternatif untuk mencapai tubuh yang ideal. Memang pada kenyataannya berpuasa yang tidak direspon berlebihan ketika melakukan berbuka dapat memberikan harapan tersebut. Namun juga harus dimengerti bahwa puasa bukan sekedar memberikan kesehatan fisik saja tetapi lebih dari itu puasa dapat memberikan kesehatan jiwa (spritual) selama seseorang menjalaninya sesuai dengan perintah syariah maka puasa akan menghantarkan seseorang lebih sensitif dalam membangun hubungan vertikal kepada sang Pencipta begitupun hubungan horizontol dengan nilai-nilai kemanusian.

Hubungan vertikal dimulai dari keyakinan bahwa ada kekuatan besar dalam bentuk supranatural di atas dimensi kekuatan manusia dan alam seluruhnya, dimana kekuatan itu dapat merubah, mengatur, memberi, dan menciptakan manusia dan seluruh alam semesta serta menentukan kebaikan dan keburukan untuk manusia dan alam.  Untuk mengetahui dan bertemu dengan kekuatan besar itu semua orang akan memberikan interpretasinya  terhadap wujud Tuhan dan hasilnya akan berbeda sesuai frekuensi kedalaman tingkat rasional dan spiritual masing-masing orang. Untuk itu agar pencarian itu tidak keliru maka Allah mengirimkan Rasul sebagai penyampai wahyu agar kekokohan aqidah benar-benar terarah kepada sang Pencipta yang sebernarnya. Pendalaman aqidah agar manusia itu benar-benar mentauhidkan Allah tanpa ada serikat lain yang ditempelkan kepada Allah. salah satu cara yang menarik dan pembelajaran istimewa yang Allah berikan kepada manusia dalam merasakan bahwa ada sang Kuasa yang menguasai dirinya adalah dengan wahyu berpuasa. 

Seruan Puasa dengan mengajak orang-orang beriman untuk berpuasa merupakan seruan mengajak kepada Tauhid sempurna dimana puasa yang akan dilaksanakan setiap orang beriman itu hanya dapat dikerjakan jika keimanannya benar-benar meyakini bahwa hanya Allah Tuhan yang menguasai dirinya sehingga melahirkan spirit bahwa puasa hanya untuk dan karena Allah. karena puasa merupakan ibadah yang hanya dapat dirasakan secara personal maka hanya subyektifitas seseorang saja yang dapat mengerti kesungguhan puasanya dan hanya Allah pula yang dapat mengawasi secara langsung sesuai konsep hadis qudsi "Puasa itu hanya untuk-Ku dan Aku yang akan langsung mengganjarNya".

Seruan beriman mengarahkan pula kepada prilaku horizontal yang akan dimuncukkan dari kata Iman itu sendiri, sebagai harapan jika seseorang mampu menghantarkan kedalam jiwanya kehadiran Allah sebagai ke Esaan Tuhan maka akan lahir pula prilaku sempurna selaku hamba yang menjalani proses kehidupan dengan sesamanya dan makhluk lainnya dialam dunia. Dimana tuntutan dari kata iman itu mempunyai multi makna diantaranya adalah iman adalah percaya, aman, dan amanah, diambil dari pecahan kata amana menjadi imanan/amanan/amanatan. Dapat dipahami bahwa seseorang yang mengaku dirinya orang yang beriman harus benar-benar mempercayai hanya Allah Tuhan semesta Alam tetapi juga melekat pada dirinya bahwa kepribadian seorang mukmin pun harus dapat dipercaya dalam segala urusan dunia, jujur perkataan dan perbuatan. Selanjutnya bahwa seorang mukmin kehadirannya dimuka bumi bukanlah sebagai perusak tetapi sebagai pemberi kenyamanan, ketentraman, dan keamanan untuk berkesinambungannya nilai-nilai kemanusian dengan membentuk peradaban luhur bagi generasi manusia. Berikutnya adalah seorang yang beriman mampu menjalani dan menerima amanah sebagai wujud interaksi sosial yang dibangun atas dasar tugas kemanusian sebagai khalifah dan pemakmur bumi. Maka ketika seruan iman itu dijadikan sebagai penghayatan dan dapat diaplikasikan dalam dimensi kehidupan sudah tentu akan memberikan dua dampak perhatian serius pertama, keberlanjutan Tauhid sebagai dakwah dan kedua, nilai-nilai sosial sebagai keberlanjutan keturunan manusia sebagai pembawa risalah.      

Zulkarnain Nasution
Penulis adalah Alumni Al-Azhar University Cairo Mesir
  • Buletin SAROHA EDISI RE-BORN - I/03/07-2014

0 comments:

Post a Comment